Saturday, 27 December 2014

Torsio Testis


          Torsio testis adalah terpeluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada testis. Keadaan ini diderita oleh 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang dari 25 tahun, dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun).

Anatomi
          Testis normal dibungkus oleh tunika albuginea. pada permukaan anterior dan lateral, testis dan epididimis dikelilingi oleh tunika vaginalis yang terdiri atas 2 lapis, yaitu lapisan viseral yang langsung menempel ke testis dan di sebelah luarnya adalah lapisan parietal yang menempel ke muskulus dartos pada dinding skrotum.
          Pada masa janin dan neonatus lapisan parietal yang menempel pada muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya sehingga testis, epididimis, dan tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan memungkinkan untuk terpeluntir (terlilit) pada sumbu funikulus spermatikus. terpluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis ekstravaginal.
          Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan kelainan sistem penyanggah testis. Tunika vaginalis yang seharusnya mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral testis, pada kelainan ini tunika mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding skrotum. Keadaan ini menyebabkan testis dan epididmis dengan mudahnya bergerak dikantung tunika vaginalis dan menggantung pada fenikulus spermatikus. Kelainan ini dikenal sebagai anomali bell-clapper, keadaan ini akan memudahkan testis mengalami torsio intravaginal.

Patogenesis
          Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakan testis mendekati dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis. Adanya kelainan sistem penyanggah testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu, antara lain perubahan suhu yang mendadak (saat berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi, trauma yang mengenai skrotum.
          Terpluntirnya funikulus spermatikus menyebabkan obstruksi aliran darah testis sehingga mengalami hipoksia, edema testis, dan iskemia. Pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis.


Gambaran Klinis dan Diagnosis
          Pasien mengeluh nyeri hebat didaerah skrotum, yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis, nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah kanan bawah. Pada bayi gejalanya tidak khas yakni gelisah, rewel, atau tidak mau menyusui. Pada pemeriksaan fisis, testis membengkak, letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi kolateralnya. Torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus spermatikus.
          Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukan adanya leukosit dalam urin dan pemeriksaan darah tidak menunjukan tanda inflamasi, kecuali pada torsio testis yang sudah lama dan telah mengalami peradangan steril. Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio testis dengan keadaan akut skrotum yang lain adlah dengna memakai: stetoskop doppler, ultrasonografi doppler, dan sintigrafi testis yang semuanya bertujuan menilai aliran darah ke testis. Pada torsio testis tidak didapatkan aliran darah ke testis sedangkan peradangan akut testis, terjadi peningkatan aliran darah ke testis.

Diagnosis Banding
  1. epididimitis akut
  2. hernia skrotalis inkarserata
  3. hidroker terinfeksi
  4. tumor testis
  5. edema skrotum
Terapi
Detorsi manual
          Detorsi manual adlah mengembalikan posisi testis ke asalnya, yaitu dengan jalan memutar testis kearah berlawanan  dengan arah torsio. Karena arah torsio biasanya ke medial maka dianjurkan untuk memutar testis kearah lateral dahulu, kemudian jika tidak terjadi perubahan, dicoba detorsi kearah medial. Hilangnya nyeri setelah detorsi menandakan bahwa detorsi telah berhasil. jika detorsi berhasil operasi harus tetap dilaksanakan.
Operasi
          Tindakan operasi dimaksudkan untuk mengmbalikan posisi testis pada arah yang  benar dan setelah itu dilakukan penilaian viabilitas testis yang mengalami torsio, munkin masih viable(hidup) atau sudah nekrosis. Jika testis hidup dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral.
          Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali, sedangkan pada testis yang sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral. Testis yang telah menglami nekrosis jika dibiarkan dalam skrotum akan merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan fertilitas dikemudian hari.

No comments:

Post a Comment